Memuat...

Páginas

Facebook dan rindu

Lewat tengah malam. Hari pertama dalam beberapa minggu terakhir saya belum bisa tidur sampai jam segini padahal sebelumnya jam 8 atau 9 sudah tertidur pulas.

Kali ini ceritanya pake "saya" saja yah, not "aku". Lagi pengen.

Karena belum bisa tidur, saya iseng buka facebook lalu terbawa ke beberapa profil teman semasa kuliah. Bukan teman dekat. Hanya teman seangkatan yang pernah beberapa kali sekelas tapi tidak pernah saling sapa. Hehe...
Lumayan lama disana, melihat beberapa foto semasa kuliah dan canda bersama teman seperjuangan dulu. Beberapa ada yang sepertinya masih tenggelam dalam kenangan semasa kuliah, ada juga ajakan reuni. Reuni? Dalam waktu panjang tidak bertemu dan bertemu lagi dalam formasi lengkap, saya lalu bergidik.

Disana saya akhirnya menemukan rindu. Setelah sekian lama biasa saja bila disodori cerita masa kuliah. Akhirnya saya rinduuuuuuuuuuuuuu sekali. Bukan rindu ingin mengulang cerita lama, tapi rindu ingin bertemu dan melihat perubahan kawan lama.

Kuliah.

:) :) :)

Saya ingat pernah tidak masuk kelas akuntansi (atau semacamnya yang juga belajar tentang neraca, lupa) karena terlambat. Kelasnya masih terbuka, tapi dasar saya yang tidak pernah pede masuk diruangan yang sudah full manusia-manusia. Saya juga ingat saat harus pura-pura berjalan lurus karena berpapasan dengan teman dunia maya yang akrabnya hanya didunia itu saja.

Mahasiswi, bergerombol. Apalagi kalau bukan me-refresh mata a.k.a lirik sana sini.
Beberapa "teman yang manis" akhirnya menjadi bahan obrolan dengan sahabat-sahabat lama ketika berkumpul, ataukah ketika kebetulan yang dimaksud tengah melintas didepan kami. Kami beri mereka nama khusus untuk mencegah terbongkarnya "rahasia negara". Cool, yovie nuno, kakak manis, kakak beng-beng, dan banyak lainnya. Hanya sebatas heboh sendiri, selebihnya tak ada. Muda membuat labil, labil membuat malu, tapi justru itu yang membuatmu akan tertawa ketika mengingatnya dimasa yang akan datang.

Rindu sahabat lama. Entah kapan lagi bertemu. Selalu ada rindu, selalu ada janji temu, tapi balik lagi pada pe-ker-ja-an.

Saya ngetik ini sambil dengar lagu. Bukan lagu milik project pop tentang teman masa muda yang biasa saya senandungkan, tapi Kahitna, menikahimu. Saya juga bingung nyambungnya dimana. Saya hanya mencari lagu yang enak didengar sambil nulis.

Kami sedang memapankan hidup masing-masing. Sedang kumpul dana untuk temu kangen. Sedang kumpul dana juga untuk menghadiri sekaligus memberi kado pernikahan salah satu di hari depan. Iya, menikah. Sebentar lagi menikah pasti. Dulu pas masuk kuliah, tidak pernah terbayang singkatnya 4tahun terasa, tiba-tiba saja sudah lulus. Pasti tidak terasa sebentar lagi sahabat lama saya ada yang menikah. Hihi...

Ah, cukuplah sampai disini. Terima kasih facebook sudah menghadirkan rindu malam ini buat saya. Titip salam sama teman-teman seangkatan dulu. Titip salam rindu bertubi-bertubi sama sahabat-sahabat lama saya. Semoga stok rindu juga tersedia bagi mereka biar mereka bisa rindu sekali sama saya. Hehehehe :P

Good night.

Selera

Manusia, usia dan keinginan. Tiga kata yang pada kenyataannya punya hubungan. Yah, seperti hubungan gelap yang spesial dan terselubung.

Ketika kamu masih kanak-kanak, kamu menyukai susu dan minuman manis lainnya. Lalu ketika remaja, kamu mulai mencoba minuman berenergi yang kata orang itu keren padahal sesungguhnya kamu belum butuh. Kemudian kamu beranjak dewasa dengan bercangkir-cangkir kopi bermerk yang menguras kantong. Pada akhirnya ketika usiamu terus menanjak, kamu akan menyadari, air tanpa rasa dan bening adalah pilihan terbaik.

Umurmu akan mempengaruhi seleramu terhadap sesuatu. Selera, selera, selera. Menurutku bukan sesuatu yang berdasarkan pengalaman tetapi lebih kepada, hhmmm, penilaian kita, penilaian orang lain, penilaian lingkungan sekitar.

Aku beritahu kamu sesuatu. Pada akhirnya aku menyadari sesuatu ketika umurku sudah 22 tahun.
Aku lebih menyukai pria berkemeja daripada berkaos oblong bahkan yang berkerah sekalipun. Aku lebih menyukai pria bercelana kain daripada jeans, bersepatu pantofel daripada kets, berdasi daripada bertopi. Yah mungkin suatu waktu saat santai yang tidak kusukai itu justru yang terlihat menarik.
Aku lebih memilih wafer vanila daripada coklat, melangkah ditemani senja dengan wajah lelah dalam balutan setelan kerjaku daripada santai menikmati langit orange sambil menyumbat telingaku dengan lagu-lagu berirama pelan, berbaring terlentang menghadap lampu kamarku daripada menonton televisi, dan sejumlah hal tidak menarik buat remaja lainnya.

Jadi, ini hanya tentang selera. Aku tidak tahu bagaimana dengan seleramu. Semoga tidak akan berubah mengikuti usiamu ataukah semoga berubah (pilih sesuai keinginanmu).

Enjoy, dear

Selamat kepada cerita lama.


Bangun

Waktu, angin, udara, dan beribu partikel rindu yang kemudian menjadi perih tak berujung.

Selamat datang kembali.

Tenang saja, tapak kakiku hanya 'kan sampai di sini. Tidak melangkah lagi kedepan, tidak melangkah lebih jauh dari batas.

Sudah ku pasang weker apabila mataku tertidur lebih lama dari waktu yang seharusnya.

Bangun.

Sebentar lagi.

Another story of "I miss..."


Selamat malam.
Serasa lama tak pernah mampir kesini. Sibuk dan sok sibuk penyebabnya.

Apa kabar duniaku?
Pertanyaan konyol yang takkan menemui jawabnya namun asumsikan saja telah terjawab.

Aku menemukan dunia baru yang lebih real daripada ini. Dunia yang nyatanya memaksaku harus keluar dari zona nyamanku ini. Aku belajar banyak, my life has changed. Aku mengalami hal-hal yang sama sekali tak pernah aku pikirkan sebelumnya akan ku alami, aku melakukan hal-hal yang sebenarnya ingin ku hindari. Dunia baruku memaksaku harus beradaptasi secepat mungkin sebelum aku pulang as a loser.

Ah, aku merindukan banyak pribadi yang pernah ku temui beberapa waktu lalu. Beberapa waktu terakhir aku bahkan seperti dikejar bayangan mereka. A year ago, two months ago.

21 September beberapa menit lagi berakhir. Setahun sejak wisuda, setahun sejak hari terakhir aku melihat wajah-wajah itu bergerombol. Dua bulan sejak ku temukan saudara-saudara baruku yg sedunia denganku di dunia yang baru.

Tak bolehkah manusia diberi kesempatan menyusun sendiri daftar orang-orang yang akan menemaninya melewati hidup?

I really miss you.