Memuat...

Páginas

Pulang


...

Sepoi di permukaan, bunyi buih di pesisir
Sekejap datang, lalu pergi seketika
Ditinggalkannya pasir begitu saja
Basah dan mengering
Hampir bersamaan
Terbersit biru yang abu
Menenangkan namun rapuh
Bisik pelan menyegarkan
Menyapu gundah, menyejukkan
Butiran diantara jemari
Kecil namun tak menyisakan ruang
Apa artinya besar bila tak cukup punya arti?
Biar saja hening
Perubahan itu perlu
Jika lelah, melangkah
Kumpulkan jejak kembali
Butuhmu tenang

Tenang itu rumah

Tenang itu pulang


Senja dan kamu

Untukmu yang sempat ingin ku titipkan senjaku, biar bisa berjalan seiringan dengan milikmu...

Aku tak lagi tahu keberadaanmu saat ini. Aku tak punya bayangan letak tubuhmu. Aku memang pernah tahu, dulu, ketika cerita yang lain belum tercipta. Jadi, izinkan aku bertanya apa kabarmu hari ini?

Hari ini senjaku biasa saja. Matahari masih tenggelam di sisi yang sama, namun hari ini rasanya sulit menemukan rona merah di pipi ketika semburat emas ada di langit. Aku ingat pernah dengan berbinar melihat senja denganmu, ketika aku menarik lenganmu hanya untuk senja yang hanya sepenggal karena kita dikejar waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang sepertinya tak ada habisnya.

Aku tidak pernah tahu sebelum cerita kita berawal apa kau memang menyukai senja atau tidak, namun ketika semuanya berjalan baik aku tahu kau menyukainya. Aku selalu tersenyum ketika kau mengirimkanku beberapa jepretan senjamu melalui ponsel. Aku bahkan pernah beberapa kali jatuh cinta pada bayangan kita dibawah senja ketika itu.

Rasanya sudah lama dari terakhir kali bersamamu saat senja. Entah pertanda ataukah hanya firasatku saja, beberapa kali melewatkan sore denganmu yang ada malah mendung. Mungkin senja bosan dengan senyum kita. Senjanya pelit. Padahal kurang manis bagaimana lagi aku tersenyum kalau dia tiba-tiba muncul. Senjanya curang. Harusnya dari awal tak pernah indah dilihat bersama kalau ujungnya yang tersedia malah mendung.

Satu hal, apa senjamu masih hangat? Apa masih sehangat ketika kau masih berdiri disampingku dengan tawamu, sehangat obrolan santai sore kita di jalanan lurus panjang yang dikelilingi sawah-sawah penduduk, atau sehangat pertemuan sore kita sehabis pertengkaran hebat tempo hari?

Aku tak lagi tahu apa-apa tentang senjamu. Aku kehilangan keseimbangan menyamakan langkah karena sepertinya kau semakin jauh lebih ringan dan aku semakin berat. Aku masih tenggelam dalam senjaku dan kamu sepertinya kehilangan gairah untuk duduk dan sekedar menikmatinya. Aku tak suka kau tinggal dalam kelabu. Kalau kau menemukan pelangimu sendiri mungkin akan ku terima, tapi jangan tinggal bersama kelabu.

Aku tak tahu sudah sejauh apa kau melangkah. Mungkin senja bukan lagi penunjuk arahmu untuk pulang. Mungkin senja hanya jadi hiasan sore yang tak lagi menarik untukmu.

Senja dan kamu.

Inginku.

Mungkin.

Rindu.

Hampir menyentuh enam, tiga puluh menuju pergantian hari. Alunan nada dari alat musik petik mengalun pelan menyentuh kedua gendang telingaku.
"Nothing better, Nothing better than you..."
Aku mengusap pelan layar ponselku. Apa kabar? Lalu kemudian hening yang lama tercipta. Siluetmu tergambar jelas disana. Duduk seakan menantang matahari sore yang hendak pulang ke peraduan. 
Kita pernah ada di persimpangan. Berdiri bersama entah kearah mana, apakah searah atau membelakangi. Berdiri dalam diam, seperti menunggu angin puting beliung datang, meleburkan kita menjadi satu tanpa bergerak sama sekali. 
Kita pernah ada dalam spasi yang cukup lama. Menunggu akan dilanjutkan, ataukah dihapus untuk diberi titik. Namun kemudian beratus detik dilewati tanpa ada satu huruf pun yang akhirnya diketik, atau sekedar backspace yang ditekan. 
Lalu aku seakan berada dalam satu ruangan yang sangat besar. Berlari mencapai sudut yang herannya tak juga dijumpai jari-jari tanganku tak peduli sudah seberapa jauh aku berlari. Semakin ku langkahkan kakiku maju, dinding-dindingnya semakin mundur. Ketika kakiku akhirnya berhenti, yang ku sadari hanyalah jarak yang tak pernah berkurang.
Apa kabarmu hari ini?
Mungkin harusnya sudah ku bubuhi kata "Selesai" beberapa waktu yang lalu, bukan hanya titik yang masih memiliki kesempatan untuk terciptanya kalimat baru yang akan memperpanjang cerita ini.
Mungkin kamu terlalu jauh dan aku masih belum bisa memaafkan jarak. Mungkin aku hanya.......

Rindu.

Facebook dan rindu

Lewat tengah malam. Hari pertama dalam beberapa minggu terakhir saya belum bisa tidur sampai jam segini padahal sebelumnya jam 8 atau 9 sudah tertidur pulas.

Kali ini ceritanya pake "saya" saja yah, not "aku". Lagi pengen.

Karena belum bisa tidur, saya iseng buka facebook lalu terbawa ke beberapa profil teman semasa kuliah. Bukan teman dekat. Hanya teman seangkatan yang pernah beberapa kali sekelas tapi tidak pernah saling sapa. Hehe...
Lumayan lama disana, melihat beberapa foto semasa kuliah dan canda bersama teman seperjuangan dulu. Beberapa ada yang sepertinya masih tenggelam dalam kenangan semasa kuliah, ada juga ajakan reuni. Reuni? Dalam waktu panjang tidak bertemu dan bertemu lagi dalam formasi lengkap, saya lalu bergidik.

Disana saya akhirnya menemukan rindu. Setelah sekian lama biasa saja bila disodori cerita masa kuliah. Akhirnya saya rinduuuuuuuuuuuuuu sekali. Bukan rindu ingin mengulang cerita lama, tapi rindu ingin bertemu dan melihat perubahan kawan lama.

Kuliah.

:) :) :)

Saya ingat pernah tidak masuk kelas akuntansi (atau semacamnya yang juga belajar tentang neraca, lupa) karena terlambat. Kelasnya masih terbuka, tapi dasar saya yang tidak pernah pede masuk diruangan yang sudah full manusia-manusia. Saya juga ingat saat harus pura-pura berjalan lurus karena berpapasan dengan teman dunia maya yang akrabnya hanya didunia itu saja.

Mahasiswi, bergerombol. Apalagi kalau bukan me-refresh mata a.k.a lirik sana sini.
Beberapa "teman yang manis" akhirnya menjadi bahan obrolan dengan sahabat-sahabat lama ketika berkumpul, ataukah ketika kebetulan yang dimaksud tengah melintas didepan kami. Kami beri mereka nama khusus untuk mencegah terbongkarnya "rahasia negara". Cool, yovie nuno, kakak manis, kakak beng-beng, dan banyak lainnya. Hanya sebatas heboh sendiri, selebihnya tak ada. Muda membuat labil, labil membuat malu, tapi justru itu yang membuatmu akan tertawa ketika mengingatnya dimasa yang akan datang.

Rindu sahabat lama. Entah kapan lagi bertemu. Selalu ada rindu, selalu ada janji temu, tapi balik lagi pada pe-ker-ja-an.

Saya ngetik ini sambil dengar lagu. Bukan lagu milik project pop tentang teman masa muda yang biasa saya senandungkan, tapi Kahitna, menikahimu. Saya juga bingung nyambungnya dimana. Saya hanya mencari lagu yang enak didengar sambil nulis.

Kami sedang memapankan hidup masing-masing. Sedang kumpul dana untuk temu kangen. Sedang kumpul dana juga untuk menghadiri sekaligus memberi kado pernikahan salah satu di hari depan. Iya, menikah. Sebentar lagi menikah pasti. Dulu pas masuk kuliah, tidak pernah terbayang singkatnya 4tahun terasa, tiba-tiba saja sudah lulus. Pasti tidak terasa sebentar lagi sahabat lama saya ada yang menikah. Hihi...

Ah, cukuplah sampai disini. Terima kasih facebook sudah menghadirkan rindu malam ini buat saya. Titip salam sama teman-teman seangkatan dulu. Titip salam rindu bertubi-bertubi sama sahabat-sahabat lama saya. Semoga stok rindu juga tersedia bagi mereka biar mereka bisa rindu sekali sama saya. Hehehehe :P

Good night.

Selera

Manusia, usia dan keinginan. Tiga kata yang pada kenyataannya punya hubungan. Yah, seperti hubungan gelap yang spesial dan terselubung.

Ketika kamu masih kanak-kanak, kamu menyukai susu dan minuman manis lainnya. Lalu ketika remaja, kamu mulai mencoba minuman berenergi yang kata orang itu keren padahal sesungguhnya kamu belum butuh. Kemudian kamu beranjak dewasa dengan bercangkir-cangkir kopi bermerk yang menguras kantong. Pada akhirnya ketika usiamu terus menanjak, kamu akan menyadari, air tanpa rasa dan bening adalah pilihan terbaik.

Umurmu akan mempengaruhi seleramu terhadap sesuatu. Selera, selera, selera. Menurutku bukan sesuatu yang berdasarkan pengalaman tetapi lebih kepada, hhmmm, penilaian kita, penilaian orang lain, penilaian lingkungan sekitar.

Aku beritahu kamu sesuatu. Pada akhirnya aku menyadari sesuatu ketika umurku sudah 22 tahun.
Aku lebih menyukai pria berkemeja daripada berkaos oblong bahkan yang berkerah sekalipun. Aku lebih menyukai pria bercelana kain daripada jeans, bersepatu pantofel daripada kets, berdasi daripada bertopi. Yah mungkin suatu waktu saat santai yang tidak kusukai itu justru yang terlihat menarik.
Aku lebih memilih wafer vanila daripada coklat, melangkah ditemani senja dengan wajah lelah dalam balutan setelan kerjaku daripada santai menikmati langit orange sambil menyumbat telingaku dengan lagu-lagu berirama pelan, berbaring terlentang menghadap lampu kamarku daripada menonton televisi, dan sejumlah hal tidak menarik buat remaja lainnya.

Jadi, ini hanya tentang selera. Aku tidak tahu bagaimana dengan seleramu. Semoga tidak akan berubah mengikuti usiamu ataukah semoga berubah (pilih sesuai keinginanmu).