Memuat...

Páginas

5 Februari 2016

Pagi benar dari ranjangku. Lima dari dua. Tiga puluh enam yang sepertinya bakal terisi setengah. Berisi pembicaraan serius hingga obrolan santai di jalan pinggiran kota, semoga.

Sedang malas-malasan ketika teringat obrolan seorang teman beberapa malam yang lalu.

"Grace, kadang lebih baik berlari daripada mati di tempat."

Waktu itu cuma mesem-mesem ngeliatin orang didepan. Saat lagi menimbang-nimbang untuk sebuah keputusan, kemudian datang kalimat begitu, rasanya pengen langsung pulang aja terus ngomong sama tujuan.

Lari. Mesti dengan tekad yang kuat biar nanti gak malah lari kembali ke arah sebelumnya. Perlu mikir panjang juga sih dulu kayaknya biar gak nyesal. Ya gitu, kadang untuk hal yang dirasa sederhana, perlu banyak pertimbangan. Urusan lari sekalipun.

Jadi penasaran sama pikiran manusia. Yang paling normal sekalipun udah kayak benang kusut deh kayaknya, lah terus bagaimana dengan yang lagi stress?

Orang bilang, hidup jangan terlalu dibawa serius, santailah, lalu kemudian mereka menganggap hidup menjadi lebih mudah dan ringan. Tanpa sadar mereka akan melakukan hal-hal semau-gue yang anehnya berhasil membuat mereka menertawai hidup.

Aku selalu berpikir hidupku ibarat garis lurus yang hanya satu, bukan banyak garis, yang hanya punya satu arah dan bukannya bisa berbalik arah. Sekali ku jalani, tidak akan pernah bisa diulang dengan kejadian, waktu dan rasa yang sama. Satu buku bisa ku baca berulang kali. Setelah lembar terakhir, istirahat sejenak lalu kembali lagi ke halaman awal. Ceritanya akan sama, tidak berubah. Yang tidak sama hanyalah rasanya. Sebaik apapun situasinya, aku tidak akan pernah membaca buku tersebut dengan rasa yang sama saat pertama kali aku membacanya. Boleh jadi kali kedua ketiga lebih berkesan atau malah sebaliknya.

Hidupku dan yang lain juga perlu diseriusi, menurutku. Ada hal-hal dalam hidup yang perlu ditertawai dan menangislah bila memang waktunya. Kita tidak pernah bisa menjalani sesuatu dengan coba-coba dan bila ditengah jalan ternyata tidak seindah dan sebaik yang kita pikirkan, kita akan kembali memutar atau bahkan jalan pulang meninggalkan apa yang sudah kita jalani.

Ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang sangat  diinginkan. Kalau tidak berani, jangan bermimpi. Kalau tidak punya cukup modal, jangan membuat usaha. Jangan berpura-pura berdiri jika kakimu lemas dan kepalamu terasa pusing. Ketika kamu memutuskan untuk akhirnya duduk atau berbaring, kamu menutup peluang orang-orang disekeliling berjaga-jaga untukmu.

Hidup tidak sebercanda itu.

Kadang kamu harus berani bilang A untuk A dan B untuk B. Karena hidupmu bukan semata-mata hidupmu sendiri, tapi juga hidup orang-orang disekelilingmu.

Manis

Selamat malam.
Sudah sampai dirumah?
Semoga jenuhmu hilang.
Kamu butuh rumah, bukan sekedar tempat persinggahan.
Kamu butuh tempat untuk rebah, bukan sekedar bahu untuk menyenderkan kepalamu ketika terkena angin sepoi yang membuat kantuk menyerangmu.
Kamu butuh diberitahu, ada hotel, ada rumah.
Hotel akan memberimu hangat untuk sementara waktu, dan rumah tak begitu.
Rumah dibangun untuk dihuni.
Kalau kamu tak berniat membangun, pilih saja hotel.
Rumah tak butuh penghuni yang hanya ingin disinggahi beberapa hari saja.

Tenanglah, sayang
Kamu tak se-sadis tokoh dalam lagunya Afgan.
Aku paham benar.
Kamu hanya terlalu manis, juga pintar.
Bisa berlaku manis dalam mendewasakan hati.
Saking terlalu manis hingga tusukanmu tak terasa padahal sudah melukai terlalu dalam. 
Ketika pisau dicabut, darah mengucur dengan derasnya dibarengi perih yang luar biasa.

Aku (mungkin) cuma rindu.
Dulu, sebelum ini semua dimulai.
Ketika jalanan masih ramai lancar.
Ketika tak ada sengketa, yang ada hanya tenang.

Pahamilah,
Mungkin yang kau rasakan bukan apa-apa.
Aku tak pernah berjarak lima langkah dari tempatmu berdiam.
Bagimu, aku tak pernah berjarak dengan rindumu.
Karena sesungguhnya, aku tak pernah ada. 
Walau dicecar beribu rintik hujan, aku hanya aku yang ada dalam ruang luar angkasa untukmu, bagimu aku tak ada.
Aku tak pernah punya tempat.

Selamat hari baru..
Berjalanlah, tanpa menoleh. 
Rindu itu semu. Hanya balon dari air sabun yang seketika pecah di udara.

Sampai bertemu di surga.

Yours

Selamat tengah malam menuju dini hari.

Apa kabar?

Aku percaya, tujuanku bertanya sedang baik-baik saja. Sebaik langit sore hari ini. Sehangat udara di senja tadi. Tidak pernah sebaik ketika bukan Dia yang menjaganya.

Aku hanya ingin merangkai kata demi kata menjadi kalimat untuknya. Aku hanya ingin menggambarkan keseluruhan bagian dalam cerita yang ku persiapkan sebaik-baiknya. Mau aku tuliskan dengan rapi, ku beri tanda petik dan cetak miring dalam setiap kalimat yang pernah menjadi bagiannya, ku pertebal di bagian terbaik -menurutku, lalu ku kembalikan pada Dia yang sudah mengizinkanku belajar sesuatu dari cerita ini.

Aku tak ingin lagi berbantah dengan-Nya. Ketika porsi "nya" yang lain sudah selesai, biar waktu menutupnya dengan sempurna dan tanpa celah. Biar separuh diriku yang rasanya sudah jadi benda mati lalu dihilangkan digantikan dengan yang jauh lebih baik.

Untuk-Mu..
Ku kembalikan setiap bagian yang pernah ku ambil sebelum izin itu keluar.
Ku kembalikan ceritaku yang cacat, ku letakkan ke dalam tangan-Mu.
Aku paham bahwa aku yang membuatnya tidak sempurna, bukan siapa-siapa.
Aku kira aku bisa melakukannya seorang diri, meng-indahkannya tanpa-Mu, dan ternyata ku dapati hanya Penulisnya yang dapat membuatnya sempurna, benar-benar sempurna.
Ku kembalikan, biar menjadi bagianmu seutuhnya. Entah akan Kau apakan, yang pasti, biarkan aku belajar patuh pada setiap bisik dan sentuhan-Mu.

Terima kasih masih peduli.
Terima kasih masih menurunkan butiran air hujan di kala senja sudah hilang.
Terima kasih untuk setiap jeda yang pernah ada. Harusnya bisa lebih peka.
Terima kasih untuk titik di akhir.

Aku kembalikan lembaran ini pada-Mu.

Jawab saja sesuai waktu-Mu.

Rabu

Perkenalkan, dia Tanya. Bukan Apa, Siapa, Bagaimana, dan Dimana, tapi itu namanya. Meita Naylendra -entah siapa yang mulai memanggilnya "Tanya".

Ini hari Rabu. Hari kesukaannya. Bukan berarti enam hari yang lain dalam seminggu menjadi musuhnya, hanya saja ada begitu banyak hal menarik, menyedihkan, menggembirakan dalam cerita hidupnya yang jatuh tepat di hari Rabu. Coba tanyakan sekali lagi apa lagu kesukaannya, dia akan tersenyum menyebut singkat hari ketiga dalam seminggu yang ada. Rabu.

Sore itu, perlahan-lahan gerimis berubah menjadi deras ketika ia duduk menyesap tehnya. Kaca besar di ruangan kerjanya menampilkan bayang dirinya dalam balutan kemeja putih dengan kacamata setengah bingkai yang justru terpasang di kepalanya. Rabu -seperti biasa, mengalun pelan memenuhi seisi ruangan. Hampir setahun belakangan hidupnya sengaja disibukkan dengan urusan kantor yang berusaha dicari-carinya.

Sore itu langit kelabu. Diiringi tatapan mata kosong yang menerawang jauh kedepan. Kantung matanya yang menebal menyiratkan kurangnya waktu tidur dibarengi kelelahan yang luar biasa. Tanya lelah, tapi ini Rabu. Rabu menjadi tabu ketika yang ada dipikirannya hanya keinginan untuk menyerah.

Tanya menyukai Rabu, juga cerita dan individu yang pernah menjadi bagian dalamnya.

Tanya dan Rabu. Yang dibutuhkannya hanyalah kekuatan untuk melewati Rabu sebelum akhirnya menepi di hari Kamis. Lelah.

Mungkin juga,

Rindu.

Pulang


...

Sepoi di permukaan, bunyi buih di pesisir
Sekejap datang, lalu pergi seketika
Ditinggalkannya pasir begitu saja
Basah dan mengering
Hampir bersamaan
Terbersit biru yang abu
Menenangkan namun rapuh
Bisik pelan menyegarkan
Menyapu gundah, menyejukkan
Butiran diantara jemari
Kecil namun tak menyisakan ruang
Apa artinya besar bila tak cukup punya arti?
Biar saja hening
Perubahan itu perlu
Jika lelah, melangkah
Kumpulkan jejak kembali
Butuhmu tenang

Tenang itu rumah

Tenang itu pulang